#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Pengarahan Pimpinan Tahun 2016 di Lingkungan DITJENBIMAS Katolik

Minggu, 11 Januari 2015
Memasuki Tahun 2016, para Karyawan-wati Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik – Kementerian Agama RI mengikuti acara Pengarahan Awal Tahun dan Penyerahan RKA-K/L kepada Dirjen Bimas Katolik. Kegiatan yang dilaksanakan di ruang Pertemuan Kemenag Lantai 3 Jl. MH Thamrin No. 6 Jakarta Pusat, Rabu 6 Januari 2016. Materi yang disampaikan adalah laporan Evaluasi Kinerja di Bagian Sekretariat, Direktorat Urusan Agama, dan Direktorat Pendidikan Katolik yang dibawakan oleh Para Pejabat Eselon II, serta Pengarahan Dirjen Bimas Katolik, Drs. Eusabius Binsasi.
Pada kesempatan itu, Dirjen yang sebelumnya menerima RKA-K/L dari Sekretaris dan dua Direktur, menyampaikan bahwa regulasi yang berjalan saat ini, sangat mempengaruhi perubahan mindset dan cara kerja para pegawai. Diawali dengan pencanangan zona integritas, Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). Kebijakan ini, papar Dirjen, membentuk DITJENBIMAS Katolik, baik secara pribadi, unit, kepanitiaan, tim-tim, maupun Satker semakin cermat dalam mengelola keuangan negara. “Kita pun semakin hati-hati dan waspada dalam penggunaannya. Maka yang paling penting adalah INTEGRITAS. Ini pula yang ditetapkan Kementerian Agama sebagai nilai pertama dalam pencanangan lima budaya kerja tersebut,” tandas Dirjen. Dan untuk memperhatahankan kinerja ini, Dirjen menginstrusikan agar setiap tiga bulan sekali dilakukan kajian sebelum dan setelah program dilakukan. Ini untuk memenuhi efisiensi dalam penyerapan anggaran. Selain itu, Dirjen pun menandaskan perlunya dilakukan koordinasi dan konsultasi dengan para Pejabat Daerah bila akan dilakukan kegiatan di propinsi tertentu.
Pemaparan diawali oleh Direktur Urusan Agama, Sihar Petrus Simbolon S.Th, MM, yang menyampaikan program kegiatan Direktorat selama Tahun 2015 lalu. Beberapa hal penting yang telah dilakukan, misalnya Registrasi Rumah Ibadat yang telah terealisir 168 rumah ibadat, dari 10.000 gereja yang tersebar di seluruh Indonesia. Proses legalitas—penguatan lembaga agama Katolik yang berdampak pada keringanan pembiayaan pajak (PBB) dan biaya lainnya. Selain itu, sosialisasi legalitas tim Festival Paduan Suara Gerejani, serta Badan Amal Katolik Nasional. Dua kegiatan prioritas tersebut, menurut Direktur Urusan, bakal diwujudkan dalam kegiatan unggulan Direktorat di Tahun 2016 ini. “Hal yang paling penting adalah, kami terus mengajak para karyawan untuk terus meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan kita kepada umat Katolik dan Gereja. Untuk ini pun, harus didukung pula oleh pihak-pihak terkait sehingga rencana kita bersama dapat terwujud,” tandas Direktur Urusan Agama.
Motivasi yang sama juga didengungkan oleh Direktur Pendidikan Katolik, Fransiskus Endang SH MM. Menurutnya, persoalan signifikan, menyangkut kedisiplinan pegawai yang sempat menjadi momok di Tahun 2015, harus menjadi pelajaran supaya tidak terulang lagi. “Jangan karena kita telah menghasilkan kinerja baik, tapi karena masalah kehadiran (absen), kita menjadi terpuruk,” ungkap Direktur Pendidikan yang pada saat itu juga menyampaikan program prioritas di Fungsi Pendidikan. Yakni, Pendidikan Sekolah Tinggi Pastoral di Pontianak dan rencana kegiatan Pagelaran Musik PTAKS di lokasi yang sama.
Sedangkan Sekretaris DITJENBIMAS Katolik, Drs. Agustinus Tungga Gempa, MM lebih menyoroti pencapaian kinerja sepanjang TA 2015. Serapan anggaran yang berjumlah 82,07 persen menempatkan DITJENBIMAS Katolik diurutan ke-empat setelah DITJEN Pendidikan Islam,DITJENBIMAS Kristen, DITJENBIMAS Hindu. Untuk menanggapi hal ini, Sekretaris menekankan perlu dilakukannya identifikasi anggaran dan revisi yang cermat. “Apalagi kita harus bersiap-siap menyusun PAGU Indikatif untuk TA 2017,” tandas Sekretaris. Seraya mengingatkan agar proses pengadaan barang dilakukan lebih awal demi menghindari kegagalan di tahun lalu.  
Sumber :kemenag.go.id
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Pengarahan Pimpinan Tahun 2016 di Lingkungan DITJENBIMAS Katolik
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2015/01/memasuki-tahun-2016-para-karyawan-wati.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)