#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Menag : Dengan Satker Terbesar, Perubahan Kemenag Memerlukan Waktu

Kamis, 21 Januari 2016
Medan ( Pinmas)-Kementerian Agama (Kemenag) yang memiliki Satuan Kerja (Satker) terbesar di Indonesia, bahkan Satker terbesar di dunia, jika ingin melakukan perubahan memerlukan waktu. Ibarat kapal laut, Kemenag bukan Speed Boat yang jika ingin merubah haluan cukup dengan menggeser kemudinya. Tetapi Kemenag adalah kapal induk, kapal tanker yang jika ingin belok ke kiri atau ke kanan, tidak cukup memutar kemudi hanya sekali, tapi ratusan kali agar dapat berbelok. 
“Kapal yang besar tidak bisa berbelok dengan cepat seperti speed boat, sesuatu yang besar, jika melakukan perubahan perlu waktu, karena kebesaran pada dirinya,”demikian Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengilustrasikan tentang perubahan di Kemenag saat memberikan arahan bagi pejabat dan pegawai Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Utara di Medan, Jumat (15/1) lalu.
Kepada seluruh ASN Kanwil Kememag Sumut, Menag menyampaikan bahwa Kemenag sekarang sedang menjalani proses perubahan kearah yang lebih baik. 
“Alhamdulillah,  hasil sigi lembaga-lembaga survei, masyarakat melihat Kemenag secara keseluruhan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik,” ucap Menag. 
“Kita harus mensyukuri itu semua,” imbuhnya.
Ungkapan rasa syukur itu, terang Menag, adalah dengan menjaga dan mengembangakan serta meningkatkannya seluruh capaian positif yang telah diraih. Apa yang disukuri, publik atau masyarakat melihat Kemenag saat ini sudah berada pada track atau jalur yang berubah. 
“Kita sudah berubah, tentunya berubah kerah yang lebih baik,” ujar Menag. 
Seperti di KUA, Menag memberi contoh, kita telah mengalami perubahan yang mendasar, meski masih ada yang berpola prilaku masa lalu. Tapi sebagian besar dari kita sudah menuju ke arah yang lebih baik. Madrasah kita juga sudah dapat menyaingi sekolah umum, bahkan di sebagian tempat dapat mengungguli. 
“Bahkan, sudah ada masyarakat menjadikan madrasah sebagai prioritas utama menyekolahkan anaknya., “tandas Menag.
Selain itu, ujar Menag, untuk perguruan tinggi, saat ini sudah banyak Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) beralih status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dari IAIN menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). 
Untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, Kemenag sudah melakukan pencanangan Zona Integritas, Wilayah Bebas Korupsi (WBK), Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) yang terus tumbuh. 
“Itu semakin menunjukkan kita ingin melakukan perubahan,” tutur Menag.
Menag dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan, bahwa penyelenggaraan haji dalam dua tahun terakhir banyak diapresiasi banyak kalangan. Akan hal itu, Menag mengingatkan jajaran Kemenag untuk jangan sampai berpuas diri tapi terus tingkatkan kualitas pelayanan haji.
Berbicara kerukunan umat beragama, Menag menyampaikan, masih banyak kasus yang membuat kita harus terus waspada. Ini bukanlah sesuatu yang given, bukan sesuatu hal yang sifatnya statis. Oleh karenanya, Menag menginginkan ASN Kemenag senantiasa berupaya agar kerukunan terus dijaga.
Satu hal yang menjadi kebanggaan tersendiri, tandas Menag, bahwa beberapa waktu yang lalu Kemenpan-RB memberikan penilaian nilai B atas kinerja Kemenagyang belum pernah ada selama ini karena biasanya status atau nilai yang diperoleh selalu CC. 
Atas seluruh capaian positif yang telah diraih, Menag menyampaikan apresiasi kepada seluruh ASN Kemenag, karena perubahan yang dilakukan di Kemenag pada hakikatnya dilakukan oleh seluruh ASN.
“Saudaralah yang menggerakan roda instansi Kemenag ini, mulai dari Kankemenag Kab/Kota, KUA, Madrasah, Penyuluh, Penghulu, semua aparatur. Merekalah sesungguhnya secara riil yang hidup di masyarakat dan menjalankan misi Kemenag,” tandas Menag. (rief/dm/dm).
Sumber :kemenag.go.id
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Menag : Dengan Satker Terbesar, Perubahan Kemenag Memerlukan Waktu
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/01/menag-dengan-satker-terbesar-perubahan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)