#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

KaKanwil Kemenag Maluku Memberikan Orasi Ilmiah Pada Kuliah Perdana STIKIP Hunimua SBT

Kamis, 08 September 2016
Bula, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Faesal Musaad S.Pd M.Pd mendapat kehormatan untuk memberikan orasi ilmiah pada pembukaan kuliah perdana  Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STIKIP) Hunimua yang ada di Kabupaten Seram Bagian Timur . Acara yang berlangsung di Gedung Serba Guna Dinas Kesehatan SBT pada Kamis (8/9) ini dikemas dalam rangkaian peresmian berdirinya STIKIP Hunimua di SBT.  Dalam orasinya, Faesal menegaskan pentingnya peran dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi yang ada di SBT dalam menyikapi tantangan global di masa yang akan datang. Konektivitas dan membangun sinergitas antar perguruan tinggi yang ada harus senantiasa terjalin. Sebagaimana diketahui di daerah yang berjuluk Ita Wotu Nusa ini telah ada tiga perguruan tinggi swasta yakni STAIS Seram Timur, STIKIP Ita Wotu Nusa dan STIKIP Hunimua. Faesal mengharapkan ketiga  lembaga perguruan tinggii ini bisa berkompetisi positif untuk memajukan SBT dan tidak menjadikan lembaga pendidikan sebagai lahan bisnis bagi pendirinya. Dalam kesempatan itu pula Kakanwil Kemenag Maluku yang juga putra SBT ini menyampaikan kabar gembira kepada masyarakat SBT bahwa ke depannya direncanakan  akan dibangun MAK (Madrasah Aliyah Kelautan) yang berstandar internasional dengan syarat awal adalah tersedianya lahan hibah seluas 10 hektar.
Sementara itu Wakil Bupati Seram Bagian Timur Fahri Husni Alkatiri Lc. Msc. saat memberikan sambutannya dihadapan para undangan yang terdiri para akademisi , kepala SKPD serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ada di SBT Fahri mengharapakan para pengelola yayasan yang menaungi perguruan tinggi di SBT selalu berkoordinasi dengan pihak pemerintah daerah agar pihak pemda SBT bisa memfasilitasi setiap persoalan dan kegiatan yang dilakukan pihak kampus. Karena bagaimanapun juga semua yang ada ini (berdirinya berbagai kampus) muaranya adalah kemajuan dunia pendidikan di SBT. “Kehadiran STIKIP Hunimua ini sangat tepat sekali mengingat SBT masih sangat memerlukan tenanga pendidik untuk semua jenjang pendidikan yang ada dalam berbagai disiplin ilmu. Yang ada sekarang hampir 80 % dari guru adalah alumni perguruan tinggi Islam yang rata-rata bergelar S.HI. (Sarjana Hukum Islam). Maka kehadiran STIKIP Hunimua dengan berbagai prodinya bisa menjawab kebutuhan tenaga guru dalam mata pelajaran umum dan eksakta seperti Matematika, Fisika, bahasa Inggris dan lainnya sehingga kita tidak perlu lagi melakukan guru kontrak dari luar jika alumni STIKIP Hunimua nantinya lahir dengan kualitas yang sama dengan yang dari luar” tuturnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Zainuddin Notanubun M.Pd selaku Koordinator Kopertis Wilayah XII yang meliputi Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat saat membuka secara resmi berdirinya STIKIP Hunimua di SBT sekaligus pembukaan kuliah perdana STIKIP Hunimua tahun akademik 2016/2017. Notanubun mengingatkan pihak pengelola kampus harus benar benar serius mengelola perguruan tingginya karena setiap dua tahun akan diadakan akreditasi. “Maka jika tidak memenuhi nilai minimum akreditasi kampus tersebut bisa dibekukan bahkan dicabut izin operasionalnya” tegasnya.
Sesaat setelah pembukaan , acara dilanjutkan dengan panel terbuka yang menghadirkan para panelis yakni Fahri H. Alkatiri (Wakil Bupati SBT), Dr. Robert Hutagalung (Dosen Unpatti), dan Dr. J. Papilaya (Dosen Unpatti). (mukmin)


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: KaKanwil Kemenag Maluku Memberikan Orasi Ilmiah Pada Kuliah Perdana STIKIP Hunimua SBT
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/09/kakanwil-kemenag-maluku-memberikan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)