#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Ditjen Pendis Gelar Asesmen Pegawai

Minggu, 17 Januari 2016
Jakarta (Penmas) —- Mengawali  tahun anggaran 2016, Ditjen Pendidikan Islam menggelar Assesmen bagi Pejabat Eselon IV dan Jabatan Fungsional Umum (JFU) Ditjen Pendis. Dirjen Pendididikan Islam Kamaruddin Amin mengatakan, tantangan Kementerian Agama RI  ke depan kian  kompleks sehingga dibutuhkan peningkatan kapasitas dan kompetensi personil yang profesional yang digali dari beragam potensi pegawai yang ada. 
Menurut Kamaruddin, assesmen merupakan upaya untuk menaksir, mengira-ira dan menilai sejauhmana kompetensi yang dimiliki oleh pegawai. Apakah seseorang tersebut sudah pas atau belum menduduki posisi yang ada dalam menjalankan pekerjaannya.  “Cita-cita mewujudkan Pendidikan Islam yang unggul dan menjadi rujukan pemikiran Islam di dunia sebagaimana tertuang dalam visi dan misi Diten Pendidian Islam, salah satunya ditempuh dengan peningkatan kapasitas pegawainya,” terangnya, Kamis (14/01).  
Tidak lupa Kamarudin Amin berpesan kepada para peserta agar assesmen diikuti dengan baik. “ikuti kegiatan ini dengan baik dan jangan terlalu tegang, rilek saja”, harapnya.   
Kegiatan assesmen dibuka secara resmi oleh Dirjen Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin, dihadiri oleh Sekretaris Ditjen Pendis, M. Ishom Yusqi, Direktur Pendidikan Madrasah, M. Nur Kholis Seiawan dan sejumlah pejabat dilingkungan Ditjen Pendidikan Islam. 
Assesmen dilaksanakan selama 2 hari, 14-15 Januari 2015 diikuti oleh 50 orang, terdiri dari 22 orang pejabat Eselon IV dan 28 orang JFU. Pada angkatan sebelunya juga telah dilaksanakan assesmen pada 21 November 2015 untuk 50 pejabat Eselon IV dan JFU
Dalam laporannya, M. Ishom Yusqi, Sekretaris Ditjen Pendis, mengatakan bahwa assemen dilakukan untuk memetakan potensi pengembangan karir pegawai di lingkungan Ditjen Pendidikan Islam. Selain itu, assesmen dimaksudkan untuk mengantisipasi pengembangan struktur Ditjen Pendis yang baru yang saat ini masih dalam pembahasan di Kemenpan dan RB. “Kita akan membutuhkan banyak pejabat eselon III dan IV untuk mengisi jabatan-jabatan dari akibat pemekaran Direktorat”, katanya. 
Pelaksanaan asesmen ini dilaksanakan oleh Bagian Ortala dan Kepegawaian bekerjasama dengan Bagian Asesmen Pengembangan Kemenag RI dan dengan asesor eksternal dari UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Selanjutnya hasil asesmen akan divalidasi oleh Biro Kepegawaian Kemenag RI sebagai bahan pertimbangan pengembangan kepegawaian di Ditjen Pendidikan Islam.
Sementara itu Kabag Ortala dan Kepegawaian Ditjen Pendis, Aceng Abdul Aziz mengatakan bahwa assesmen bertujuan untuk membandingkan standar kompetensi jabatan Kementetian Agama dengan kompetensi yg dimiliki peserta. Selai itu lanjut Aceng, untuk menghasilkan peta kompetensi di ditjen pendis. Ending dari assesmen bisa menjadi rekomendasi pengembangan pegawai secara institusional maupun individual. (RB/mkd/mkd)
Sumber  : kemenag.go.id
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Ditjen Pendis Gelar Asesmen Pegawai
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/01/ditjen-pendis-gelar-asesmen-pegawai.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)