Sikapi LGBT, Menag: Pendidikan Untuk Ortu Juga Penting
Kamis, 18 Februari 2016
Jakarta (Pinmas) – Mensikapi fenomena Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang saat ini sedang mengemuka, diperlukan pendidikan sendiri bagi orangtua untuk bisa mendidik anak-anaknya. Selama ini kita konsen pendidikan untuk anak, itu penting. Tapi tidak kalah pentingnya adalah pendidikan bagi pasangan-pasangan muda, karena salah-salah kita mendidik anak-anak kita, maka orientasi seksual mereka (anak-anak) bisa macam-macam.
“Cara kita mensikapi batasan gender antara laki laki dan perempuan, kalau tidak pas, maka orientasi (seksual) nya (anak-anak) tersebut bisa macam-macam, selain lingkungan yang juga bisa mempengaruhi. Jadi pendidikan bagi orangtua (atas masalah ini) dinilai sangat penting,” terang Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ketika ditanya perihal menyeruaknya fenomena LGBT saat bertemu dengan jajaran redaksi Harian Umum Republika di ruang kerjanya, Kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta, Selasa (16/2).
Menag menggambarkan, sekarang ini menjadi orang tua jauh lebih kompleks dengan orangtua kita dahulu, karena tantangannya jauh luar biasa. Globalisasi dan arus paham nilai ini, pertarungan wacana, dan sosial media pengaruhnya luar biasa.
Menag menyatakan bahwa, praktek-praktek Lesbian, Gay, Bisksual dan Transgender (LGBT) adalah praktek-praktek yang tidak bisa ditolerir agama apapun. Agama tidak bisa mentolerir itu, apalagi Indonesia adalah negara dengan masyarakatnya yang religius, dan bahkan konstitusinya sangat erat dengan nilai-nilai agama. Jadi dari sisi dua hal tersebut, keyakinan, kultur dan konstitusi, sulit menerima praktek-praktek LGBT ini.
Namun demikian, ujar Menag, bukan berarti karena satu dan hal lain mereka yang berada dalam komunitas LGBT ini kemudian dikucilkan dan dinegasikan, tetap saja mereka adalah bagian dari warga bangsa dan hak-haknya perlu dipenuhi. Karenanya, menurut Menag dibutuhkan pendampingan.
“Dan disinilah tantangannya, khususnya bagi pemuka agama untuk bagaimana bisa memberikan pendampingan atau pengayoman, dan mereka juga memerlukan masukan dari pihak lain,” ujar Menag.
Menag melihat fenemona ini juga terkait dengan gaya hidup( life style). Dalam pandangannya, ada kecenderungan sebagian mereka ingin keluar, tapi sulit, misalnya kelompok transgender. Mereka merasa, hati dan batinnya itu perempuan tapi berada dalam jasad laki-laki begitu sebaliknya.
“Yang seperti ini diperlukan pendampingan, didampingi,” ucap Menag.
“Tapi kalau kemudian pemerintah dan masyarakat Indonesia dituntut untuk memberikan atau mengadvokasi atau mempromosikan mereka (komunitas) tersebut, tentu tidak lah,” imbuhnya.
Karena kita, tandas Menag, berada dalam posisi yang agama manapun tidak bisa menerima itu, sehingga justru harus sebaliknya bagaimana agar mereka kembali (ke kodratnya).
Ketika ditanyakan apakah diperlukan satuan tugas pengayoman oleh pemerintah, Menag menegaskan agar lebih baik pendampingan tersebut murni muncul dari masyarakat itu sendiri. “Kalau inisiatif pendampingan tersebut genuine muncul dari masyarakat, itu akan lebih efektif,” terang Menag.
Menag juga melihat, fenomena ini juga karena ekses globalisasi, teknologi informasi dan pengaruh sosial media yang luar biasa juga karena ada tarik menarik kebebasan berekspresi, penerapan HAM dengan nilai-nilai agama dan budaya serta moralitas.
Ikut mendampingi Menag, Kapinmas Rudi Subiyantoro, Karo Umum Syafrizal, Stafsus Menag Hadi Rahman dan Sesmen Kehoirul Huda. (dm/dm)
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Sikapi LGBT, Menag: Pendidikan Untuk Ortu Juga Penting
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/02/sikapi-lgbt-menag-pendidikan-untuk-ortu.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5

0 komentar:
Posting Komentar