#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Sikapi LGBT, Menag: Pendidikan Untuk Ortu Juga Penting

Kamis, 18 Februari 2016
Jakarta (Pinmas) – Mensikapi fenomena Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang saat ini sedang mengemuka, diperlukan pendidikan sendiri bagi orangtua untuk bisa mendidik anak-anaknya. Selama ini kita konsen pendidikan untuk anak, itu penting. Tapi tidak kalah pentingnya adalah pendidikan bagi pasangan-pasangan muda, karena salah-salah kita mendidik anak-anak kita, maka orientasi seksual mereka (anak-anak) bisa macam-macam. 
“Cara kita mensikapi batasan gender antara laki laki dan perempuan, kalau tidak pas, maka orientasi (seksual) nya (anak-anak) tersebut bisa macam-macam, selain lingkungan yang juga bisa mempengaruhi. Jadi pendidikan bagi orangtua (atas masalah ini) dinilai sangat penting,” terang Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ketika ditanya perihal menyeruaknya fenomena LGBT saat bertemu dengan jajaran redaksi Harian Umum Republika di ruang kerjanya, Kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta, Selasa (16/2).
Menag menggambarkan, sekarang ini menjadi orang tua jauh lebih kompleks dengan orangtua kita dahulu, karena tantangannya jauh luar biasa. Globalisasi dan arus paham nilai ini, pertarungan wacana,  dan sosial media pengaruhnya luar biasa. 
Menag menyatakan bahwa, praktek-praktek Lesbian, Gay, Bisksual dan Transgender (LGBT) adalah praktek-praktek yang tidak bisa ditolerir agama apapun. Agama tidak bisa mentolerir itu, apalagi Indonesia adalah negara dengan masyarakatnya yang religius, dan bahkan konstitusinya sangat erat dengan nilai-nilai agama. Jadi dari sisi dua hal tersebut, keyakinan, kultur dan konstitusi, sulit menerima praktek-praktek LGBT ini. 
Namun demikian, ujar Menag, bukan berarti karena satu dan hal lain mereka yang berada dalam komunitas LGBT ini kemudian dikucilkan dan dinegasikan, tetap saja mereka adalah bagian dari warga bangsa dan hak-haknya perlu dipenuhi. Karenanya, menurut Menag dibutuhkan pendampingan. 
“Dan disinilah tantangannya, khususnya bagi pemuka agama untuk bagaimana bisa memberikan pendampingan atau pengayoman, dan mereka juga memerlukan masukan dari pihak lain,” ujar Menag. 
Menag melihat fenemona ini juga terkait dengan gaya hidup( life style). Dalam pandangannya, ada kecenderungan sebagian mereka ingin keluar, tapi sulit, misalnya kelompok transgender. Mereka merasa, hati dan batinnya itu perempuan tapi berada dalam jasad laki-laki begitu sebaliknya. 
“Yang seperti ini diperlukan pendampingan, didampingi,” ucap Menag.
“Tapi kalau kemudian pemerintah dan masyarakat Indonesia dituntut untuk memberikan atau mengadvokasi atau mempromosikan mereka (komunitas) tersebut, tentu tidak lah,” imbuhnya.
Karena kita, tandas Menag, berada dalam posisi yang agama manapun tidak bisa menerima itu, sehingga justru harus sebaliknya bagaimana agar mereka kembali (ke kodratnya).
Ketika ditanyakan apakah diperlukan satuan tugas pengayoman oleh pemerintah, Menag menegaskan agar lebih baik pendampingan tersebut murni muncul dari masyarakat itu sendiri. “Kalau inisiatif pendampingan tersebut genuine muncul dari masyarakat, itu akan lebih efektif,” terang Menag.
Menag juga melihat,  fenomena ini juga karena ekses globalisasi, teknologi informasi dan pengaruh sosial media yang luar biasa juga karena ada tarik menarik kebebasan berekspresi, penerapan HAM dengan nilai-nilai agama dan budaya serta moralitas. 
Ikut mendampingi Menag, Kapinmas Rudi Subiyantoro, Karo Umum Syafrizal, Stafsus Menag Hadi Rahman dan Sesmen Kehoirul Huda. (dm/dm)
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Sikapi LGBT, Menag: Pendidikan Untuk Ortu Juga Penting
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/02/sikapi-lgbt-menag-pendidikan-untuk-ortu.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)