#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Warning! Darurat Hamil Duluan dan Fenomena Nikah di Bulan Maret-Apri

Senin, 30 Mei 2016
Jakarta, bimasislam— Warning bagi orang tua untuk meningkatkan kualitas kehidupan rumah tangga dan ketahanan keluarga. Pasalnya, tren pasangan yang sudah hamil sebelum menikah terus meningkat dari waktu ke waktu. Fenomena ini diperoleh saat bimasislam melakukan kunjungan ke sejumlah KUA di Indonesia. Di Malang, Jawa Timur, diperkirakan 25 persen calon perempuan yang datang untuk mengajukan pencatatan nikah berada dalam kondisi sudah hamil. Sementara itu di kecamatan Selebar, Kota Bengkulu, sekitar 20 persen pasangan yang dilayani KUA tiap tahunnya dalam kondisi tengah hamil. Diyakini di tempat-tempat lain juga terjadi hal yang sama. Sehingga angka yang sebenarnya bisa jadi lebih besar, karena data tersebut hanya berasal dari pasangan yang secara sukarela mendaftarkan pernikahannya ke KUA, belum termasuk yang menikah secara siri karena malu kepada tetangga. Hal ini menjadi peringatanbagi keluarga Muslim, mengingat jika masalah ini dibiarkan maka akan menjadi masalah sosial yang jauh dari tuntunan agama namun dianggap lazim.   Fenomena lain yang tak kalah memprihatinkan adalah tren di kalangan anak muda untuk merayakan tahun baru dan hari valentine dengan melakukan hubungan layaknya suami istri. Hasil penelusuran bimasislam, fenomena merayaan tahun baru di kawasan wisata dengan kekasih sudah menjadi tren baru di kalangan anak-anak muda. “Hal inilah yang menyebabkan angka pernikahan pada akhir bulan Februari, Maret, dan April cenderung lebih tinggi dari pada bulan sebelumnya,” kata sumber bimasislam. Sumber itu juga menyebut bahwa tak sedikit di antara anak-anak muda yang menyewa villa atau hotel untuk menghabiskan malam bersama teman dan kekasihnya masing-masing di malam pergantian tahun layaknya suami istri.   Angka pernikahan di bulan-bulan tersebut cenderung meningkat akibat pergaulan yang dilakukan pada bulan sebelumnya, yaitu saat perayaan malam tahun baru dan valentine. “Mereka lalu hamil dan terpaksa menikah pada bulan-bulan itu” ujar sumber tersebut.   Peran orang tua dalam hal ini sangat menentukan, terutama dalam hal pegawasan terhadap pergaulan putra dan putrinya. Termasuk dalam hal ini pengenalan agama secara lebih intensif pada anggota keluarga. Selain itu, perlu ada pengalihan perhatian saat menyambut tahun baru atau menjelang tanggal 14 Februari (valentine’s day) dengan acara yang lebih menarik dan bermanfaat bagi generasi muda, sehingga mereka meninggalkan tradisi buruk tersebut.   Peran Pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk melakukan pengawasan terhadap kawasan atau pusat-pusat wisata yang diduga dijadikan tempat perayaan oleh anak-anak muda tersebut. “Misalnya membuat aturan hotel yang lebih ketat terhadap pasangan yang menginap tanpa tanpa disertai Surat Nikah. Selain itu, institusi pendidikan juga berperan penting dalam mendidik generasi muda untuk berhati-hati dan menjauhi pergaulan bebas. “Pencegahan terhadap budaya permisif (serba boleh) itu memang memerlukan peran dari berbagai pihak, selain keluarga, peran sekolah, Pemda, dan juga Kementerian Agama mutlak diperlukan!” ujar sumber tersebut.   Selama ini, Kementerian Agama telah melakukan sejumlah upaya untuk menjaga moral dan mencegah terjadinya fenomena hamil di luar nikah. Upaya tersebut antara lain penyelenggaraan kursus pra nikah, pembinaan remaja tentang bahaya pergaulan bebas, bimbingan masyarakat melalui tenaga penyuluh agama, hingga peningkatan ketahanan keluarga melalui pembinaan keluarga sakinah. Meski demikian upaya tersebut masih belum cukup tanpa peran serta dan dukungan dari sejumlah pihak [] (bimasislam) 
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Warning! Darurat Hamil Duluan dan Fenomena Nikah di Bulan Maret-Apri
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/05/warning-darurat-hamil-duluan-dan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)