#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Ramadan Momentum Latih Mengendalikan Nafsu

Selasa, 07 Juni 2016
Jakarta (Pinmas) —- Hari pertama puasa Ramadan 1437H, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjadi pengisi perdana kuliah tujuh menit (kultum) di Musalla Attarbiyah Gedung Kemenag,Lantai 6.  Menag mengajak aparatur Kemenag untuk lebih dalam memaknai puasa, tidak sekedar menahan makan, minum, dan berhubungan suami-istri saja.   
Menurutnya, menahan berarti pengendalian diri, sehingga hakikat menahan diri adalah pengendalian nafsu.  Bulan Ramadan adalah kesempatan penting untuk melatih dan mengendalikan hawa nafsu.
“Mengapa nafsu harus dikendalikan?  Karena segala kerusakan di muka bumi ini berawal dari nafsu. Semua masalah, dari persoalan bangsa, masyarakat, RT/RW, tetangga hingga keluarga atau bahkan diri sendiri, semua  berawal dari ketidakmampuan kita mengendalikan nafsu,” jelasnya, Senin (06/06).
Dijelaskan Menag, Al-Quran memilah nafsu menjadi tiga. Pertama, Nafsu Mutmainnah, yaitu nafsu yang membuat pemiliknya tenang dalam ketaatan.  Kedua, Nafsu Ammarah. Nafsu ini sangat berbahaya apabila melekat pada diri seorang manusia. Sebab, ia suka mengarahkan manusia kepada perbuatan buruk.  Ketiga, Nafsu Lawwamah, yaitu  nafsu yang sudah mengenal baik dan buruk tapi condong ke keburukan. 
Dengan menjalankan syariat puasa, lanjut Menag, umat Islam diharapkan akan lebih arif atau bijak dalam menghadapi segala persoalan.  Orang yang  arif atau bijak itu lebih dari sekedar tahu atau paham, tapi juga mengetahui implikasi dan beroreinstasi masa depan. Bahkan mampu memahami latar belakang dari sebuah persoalan.  
Selain itu, Menag juga mengingatkan pentingnya dampak puasa dalam  kehidupan sosial.  Menurutnya,  ketaatan hamba Allah  sebagai khalifah harus direfleksikan dalam fungsi sosial.  “ Jadi  jangan lagi punya anggapan, saya buru-buru pulang, saya tinggalkan pekerjaan di kantor, karena di rumah mau baca Al-Quran atau ibadah mahdoh lainya. Padahal masih harus menjalankan tugas melayani,” tutur Menag. 
“Menjalankan fungsi sosial juga ibadah, Islam tidak memisahkan itu. Fungsi sosial bagian dari esensi ajaran agama,” tambahnya sembari  mengapresisai acara kultum ini sebagai tradisi baik. (moko/mkd/mkd)
sumber :kemenag.go.id
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Ramadan Momentum Latih Mengendalikan Nafsu
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/06/ramadan-momentum-latih-mengendalikan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)