#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

37 CJH Tahun 2016 Asal SBT Mengikuti Bimbingan Manasik Haji Tingkat Kabupaten

Rabu, 20 Juli 2016
Bula-KemenagSBT. Untuk memantapkan kesiapan para Calon Jamaah Haji (CJH) Tahun 2016 asal Kabupaten Seram Bagian Timur, Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Kemenag SBT melaksanakan kegiatan Bimbingan Manasik Haji Tingkat Kabupaten sejak  hari Sabtu sampai Minggu kemarin (16-17/7/2016). Kegiatan yang berlangsung di Aula Kemenag SBT ini  dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kemenag SBT Drs. H. Ismail Rumfot dan diikuti oleh 37 Calon Jamaah Haji. Dalam arahannya Kepala Kemenag menghimbau kepada para calon jamaah haji untuk meluruskan niat mereka dalam ibadah suci ini semata mata lillahi Ta’ala. “Jangan ada yang ingin naik haji hanya karena ingin mengangkat status social dirinya atau untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Untuk itu , mari kita luruskan niat kita semua. Karena Rasulullah berpesan kepada kita bahwa setiap amal akan mendapatkan balasannya sesuai dengan niat dari pelaku amal tersebut”. Dalam kesempatan itu pula, H. Ismail Rumfot berbagi pengalaman pribadinya pada saat melaksanakan ibadah haji  dua tahun silam sebagai gambaran bagi para calon jamaah haji yang nampak serius menyimak arahan dari Kepela Kemenag SBT tersebut.
Kegiatan Bimbingan Manasik Haji Tingkat Kabupaten ini menghadirkan H. Syamsudin Ernas SH. sebagai pemateri sekaligus pembimbing manasik. Bapak Haji Ernas begitulah masyarakat biasa memanggilnya adalah mantan Kepala Bidang Haji dan Umrah pada Kanwil Kemenag Provinsi Papua yang telah kembali ke kampung halamannya yakni SBT setelah memasuki masa purna bhaktinya sebagai abdi Negara di Kementerian Agama. Dalam paparan materinya, Haji Ernas mengingatkan kepada calon jamaah haji asal SBT untuk menjaga akhlak baik sebelum berangkat ,selama pelaksanaan haji serta setelah kembali ke tanah air. Karena akhlaq yang terjaga menjadi bagian dari tanda teraihnya predikat haji mabrur. Sesaat setelah paparan materi, calon jamaah diarahkan dengan simulasi manasik sebagai bentuk latihan praktek langsung tahapan demi tahapan rangkaian ibadah haji.
Pada sesi selanjutnya, para calon jamaah haji dibekali dengan materi panduan berhaji sehat oleh H. Muh. Arsyad Rumasukun S.Kep. dari RSUD Kabupaten SBT. Pemateri yang pernah menjadi Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) tahun 2014 menyampaikan tips-tips dalam menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh selama pelaksanaan ibadah haji. Arsyad mengingatkan kembali para calon jamaah haji bahwa ibadah haji sangat identik dengan ibadah fisik karena hampir semua rangkaian ibadah tersebut berhubungan dengan aktivitas fisik yang tentunya sangat memerlukan kondisi fisik tetap prima demi sempurnanya pelaksanaan ibadah suci ini. Arsyad juga mengharapkan kepada para calon jamaah untuk menyampaikan setiap keluhan menyangkut kesehatan dirinya kepada petugas kesehatan yang ada disana.

Sementara itu Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah Drs. H. Madjis Mudjid sebagai pemateri terakhir mengawali paparannya dengan bacaan kalimat talbiyah yang dengan spontan diikuti oleh para  calon jamaah haji. Dalam paparan materinya, H. Madjis mengajak para calon jamaah haji untuk merenungi kembali sejarah disyariatkannya ibadah haji serta hikmah yang ada di dalam ibadah tersebut. “Tak ada yang lebih indah dari perjalanan hidup kita di dunia ini, selain di saat kita berada di Baitullah Makkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawwarah”.  tuturnya dengan kalimat puitis. (mukmin)
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: 37 CJH Tahun 2016 Asal SBT Mengikuti Bimbingan Manasik Haji Tingkat Kabupaten
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/07/cjh-tahun-2016-asal-sbt-mengikuti.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)