#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Kepala KanKemenag SBT : Kerukunan Masyakat SBT Harus Menjadi Proyek Percontohan Bagi Daerah Lain

Jumat, 29 Juli 2016
Bula-KemenagSBT. Nuansa kebersamaan yang telah dilakoni selama Ramadhan pada diri seorang muslim harus terus dipertahankan dan dilestarikan sebagai cerminan dari jalinan ukhuwah islamiyah yang diajarkan agama Islam. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Kemenag Seram Bagian Timur (SBT) Drs. H. Ismail Rumfot dalam sambutannya pada acara Halal Bihalal Keluarga Besar Ikatan Kerukunan Keluarga Seram Sulawesi Tenggara (IKSST) Kabupaten Seram Bagian Timur Kamis kemarin (28/7). Kepala Kemenag SBT mengharapkan kerukunan dan kebersamaan masyarakat SBT pada umumnya dan seluruh anggota IKSST khususnya bisa  menjadi proyek percontohan bagi daerah lain. Hal tersebut bisa dibuktikan bahwa selama ini daerah SBT bisa meminimalisir terjadinya konflik horisontal baik antar agama, suku dan konflik internal agama itu sendiri.

Sementara itu ketua acara Halal Bihalal ini, ibu Ani Wajo S.Pd mengatakan bahwa acara yang menghimpun para "perantau" dari Sulawesi Tenggara ini merupakan kegiatan perdana untuk mempererat hubungan anggota IKSST yang ada di SBT khususnya di Kota Bula. Hal ini juga untuk menggali dan memberdayakan potensi yang ada pada paguyuban ini, baik itu potensi ekonomi, pendidikan maupun potensi lain untuk dikembangkan di masa yang akan datang demi kesejahteraan bersama seluruh anggota IKSST.

Selain acara ini diisi dengan suguhan tarian khas daerah Sulawesi Tenggara dan suguhan seni lainnya, kegiatan yang mengambil tema Melalui Halal Bihalal Kita Jalin Persaudaraan, Merajut Kebersamaan, Tingkatkan Ukhuwah Islamiyah di Bumi Ita Wotu Nusa ini juga menghadirkan penceramah Ustad Moksen Mahu S.Ag untuk menguraikan hikmah dari halal bihalal tersebut. Dalam paparan hikmahnya, Ustad Moksen Mahu S.Ag yang juga Kepala Sub Bagian Tata Usaha pada Kantor Kementerian Agama SBT ini mengungkapkan pentingnya mempererat kembali jalinan ukhuwah pada masyarakat SBT baik masyarakat asli SBT maupun para perantau paska pelaksanaan pilkada. "Islam telah mengajarkan kepada kita akan wajibnya persatuan. Pada hakekatnya tidak ada istilah kaum pendatang dam kaum pribumi. karena penggunaan istilah tersebut di tengah masyarakat akan menjadi sekat bagi keharmonisan dalam berinteraksi di antara sesama apalagi kita berada dalam satu aqidah, maka semua secara otomatis telah terikat dalam bingkai Ukhuwah Islamiyah tanpa melihat latar belakang dari mana dan suku apa. Kita harus ingat sejarah, bagaimana Rasulullah SAW mempersatukan kaum Anshar dan Muhajirin di Kota Madinah dengan berbagai strategi termasuk didalamnya adalah dengan jalur pernikahan silang antar kaum Anshar dan Muhajirin." tutur dai berpenampilan low profile
yang biasa disapa pak Moksen ini. (mukmin)
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Kepala KanKemenag SBT : Kerukunan Masyakat SBT Harus Menjadi Proyek Percontohan Bagi Daerah Lain
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/07/kepala-kankemenag-sbt-kerukunan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)