#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Penyusunan Buku Pengayaan PAI Harus Memperhatikan Kekinian dan Kedisinian

Rabu, 01 Februari 2017
Tangerang (Pendis) - Guru agama di samping harus memiliki kompetensi utuh dan pengetahuan yang cukup, juga harus memiliki kemampuan menanamkan nilai-nilai luhur ajaran agama Islam sebagai basis moral, etika, dan akhlak mulia kepada peserta didik. "Belajar agama bukan berarti untuk menjadikan ahli agama semata, tetapi bagaimana siswa paham agamanya, mau melaksanakan ajaran agamanya, dan memiliki akhlak mulia," tegas Direktur PAI Imam Syafe`i, pada kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru dan Pengawas PAI pada Sekolah yang dilaksanakan di The Days Hotel Tangerang, 14 s/d 16 Desember 2016.
Kegiatan yang didesain untuk me-review buku teks merupakan tindaklanjut dari kegiatan penyusunan yang dilaksanakan di Batam bulan November lalu (23-25 November 2016), membahas seputar peningkatan dan pengembangan materi PAI,yaitu pengembangan Islam rahmatan lil alamin (ISRA) dalam buku pengayaan PAI SMP.
Terkait dengan penyusunan buku, menurut Direktur, ada tiga hal yang harus menjadi perhatian, agar pembaca memiliki alasan kuat untuk membacanya. Pertama, penulis. Jika penulis sudah berkaliber, memiliki jam terbang tinggi dengan karya-karyanya yang selalu sukses, maka resistensinya akan berkurang. Kedua, kekinian. Tulisan tidak hanya sekedar pemenuhan hasrat dan keinginan, tapi juga harus mengikuti perkembangan zaman yang berlaku saat buku ditulis.Ketiga, kedisinian. Dalam hal menulis, tentu juga harus memperhatikan kearifan lokal (local wisdom), adanya penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. "Ada tiga faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan buku: penulisnya; kekinian; dan kedisinian," ujarnya.
Dalam pandangan Direktur, karena buku yang disusun ini adalah buku pengayaan, dan diharapkan menjadi alternatif selain buku teks. Karenanya buku pengayaan ini harus lebih komprehensif, lebih membumi dalam konteks keindonesiaan, lebih mengayomi, dan tidak terjebak ke dalam paham-paham ekstrim.
"Menulis buku, sama dengan mengerjakan proyek-proyek besar yang lain, harus ada tahapan-tahapan, dan terakhir harus dipublikasikan kepada khalayak untuk memperoleh pandangan," pungkasnya. (ozi/dod)
sumber :kemenag.go.id
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Penyusunan Buku Pengayaan PAI Harus Memperhatikan Kekinian dan Kedisinian
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2017/02/penyusunan-buku-pengayaan-pai-harus.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)