#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Kasub Bagian TU Kemenag SBT : Tidak Ada Cuti Lain Saat Cuti Bersama

Rabu, 07 Juni 2017
Bula (Inmas), Dalam rangka optimalisasi pelayanan publik menjelang pelaksanaan cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 1438 H./2017 M. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menerbitkan surat himbauan untuk tidak memberikan cuti sebelum dan sesudah cuti bersama sebagaimana tertuang dalam surat No. B/21/M.KT.02/2017. tertanggal 30 Mei 2017.
Demikian disampaikan oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Seram Bagian Timur Moksen Mahu S.Ag dihadapan ASN Kemenag SBT sesaat setelah sholat dhuhur berjamaah di Mushola Al Ikhlas Kemenag SBT Selasa (6/6) kemarin. Berdasarkan edaran Menpan tersebut, Moksen Mahu menghimbau kepada seluruh ASN Kemenag SBT untuk tidak melakukan pengajuan cuti tahunan untuk sementara waktu di bulan ini, walaupun itu merupakan hak pegawai.
"Keberadaan cuti bersama tidak mengurangi hak cuti tahunan dari setiap pegawai, namun bisa diajukan pada kesempatan lain" tegasnya.
Kasub bagian TU Kemenag SBT ini juga menegaskan bahwa setelah pelaksanaan cuti bersama nantinya seluruh aktivitas perkantoran dan pelayanan publik harus berjalan normal sebagaimana biasanya. "Kita akan monitor dan evaluasi kehadiran pegawai sebelum dan sesudah cuti bersama ini" ungkapnya. (mukmin)
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Kasub Bagian TU Kemenag SBT : Tidak Ada Cuti Lain Saat Cuti Bersama
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2017/06/kasub-bagian-tu-kemenag-sbt-tidak-ada.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)