#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Dirjen: Pendidikan Agama Sangat Kontributif Jalankan PPK

Selasa, 12 September 2017
Aceh (Kemenag) - Pendidikan Agama sangat kontributif dan perlu terus direvitalisasi dalam pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).  Kehadiran Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter merupakan peluang yang strategis dalam menjalankan fungsi pendidikan agama di sekolah.
“Nilai-nilai karakter dalam Peraturan Presiden itu, di antaranya religius, jujur, toleran, disiplin, semangat kebangsaan, cinta tanah air, cinta damai, bertanggung jawab dan lain-lain, merupakan nilai-nilai yang dikembangkan oleh PAI. Oleh karenanya, PAI pada sekolah harus lebih lebih kontributif lagi dalam konteks Perpres tersebut," ujar Dirjen Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin, saat membuka Rapat Persiapan PentasPendidikan Agama Islam (PAI) di Banda Aceh, 8-10 September 2017.
Kegiatan ini dihadiri oleh pejabat di lingkungan Direktorat PAI, kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (PAKIS) seluruh Indonesia, Pemda Provinsi Aceh, para dewan juri lokal, dan panitia pelaksana Pentas PAI.
Kamaruddin Amin menyatakan, PAI pada sekolah sangat berperan dalam membangun karakter secara nyata. Ada 60 juta seluruh siswa se-Indonesia, yang 50 juta di antaranya ada di sekolah. Dari 50 juta itu, 46 juta di antaranya adalah siswa muslim yang belajar agama Islam di sekolah.
 “Penyelenggaraan PAI pada sekolah memiliki peran dan kontribusi yang demikian penting terutama dalam membangun pendidikan karakter itu,” kata  Dirjen.
Menurutnya, PAI sangat relevan untuk dikontekstualisasi agar agama memang mampu dalam merespon perubahan zaman dan sekaligus dalam membangun wawasan kebangsaan yang baik.
Pendidikan agama tidak hanya diarahkan untuk menjadi anak yang saleh secara vertikal an sich, namun juga perlu didorong untuk menciptakan kesalehan sosial dan perekat sosial dalam kesadaran berbangsa.
“Pendidikan agama memainkan peran sebagai perekat kohesi sosial dan penguat keharmonisan keragaman dalam bingkai kebangsaan. Lebih-lebih di era digital yang demikian dahsyat, maka nilai-nilai agama harus relevan dan kontekstual dengan tantangan itu," ujar Kamaruddin Amin.
Dikatakannya, Pentas PAI merupakan ikhtiar untuk menunjukkan ke publik bahwa pendidikan agama memang berperan dalam mengharmoniskan keragaman dalam beragama dan wawasan kebangsaan itu.
“Pentas PAI bukan hanya sekedar seremonial, tetapi juga memiliki dampak yang lebih luas, yakni membangun kebersamaan dalam keragaman itu, tutur Kamaruddin Amin.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Dirjen: Pendidikan Agama Sangat Kontributif Jalankan PPK
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2017/09/dirjen-pendidikan-agama-sangat.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)