#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Kemenag Fokus Penuhi Kebutuhan Guru Pendidikan Agama Islam

Senin, 18 September 2017
Bogor (Kemenag) --- Sekretaris Ditjen Pendis Ishom Yusqi menyampaikan bahwa Kementerian Agama tahun ini sedang fokus untuk menyelesaikan persoalan pemenuhan kebutuhan guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Hal ini disampaikan Ishom pada Kegiatan Peningatan Kompetensi Guru dan Pengawas PAI bidang ICT di Sentul, Bogor..
“Sudah lama tidak ada pengangkatan guru PAI. Guru PAI dengan NIP Kementerian Agama sudah tinggal 10% dari total guru yang ada. Kita juga berupaya agar pengangkatan guru PAI sampai pensiunnya menjadi tanggung jawab Kementerian Agama, karena itu adalah domain Kementerian Agama,” terang Ishom, Jumat (15/09).
Dalam PMA 42 tahun 2016, jelas Ishom, secara struktural jelas bahwa guru PAI adalah tanggung jawab Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Direktorat PAI. “Kita akan lakukan koordinasi dengan KEMENPAN-RB dan kementerian terkait untuk menegaskan regulasi tersebut. Pengangkatan guru Agama adalah tanggung jawab Kementerian Agama”, tegas Guru besar STAIN Ternate tersebut.
Lahirnya UU No. 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan turut menjadi fokus Kementerian Agama untuk menyusun buku teks agama di Sekolah. Ishom menjelaskan bahwa Kementerian Agama sedang berupaya menjadikan konten buku teks PAI sebagai rujukan Islam Moderat di Sekolah. Ishom menegaskan bahwa saat buku teks sudah tersedia gurulah yang menjadi penentu arah Pendidikan agama Islam di kelas.
“Anak didik kita bisa lebih cepat mendapatkan informasi dari pada gurunya. Kalau guru hanya berpatok pada satu satu buku atau satu kitab, maka yang disampaikan adalah pemahaman keagamaan yang sempit dan membosankan. Jadi pembuatan konten dan penyampaian pembelajaran mutlak membutuhkan revitalisasi dari guru PAI. itulah alasan guru agama harus mengenal teknologi”, ungkapnya.
Ishom menambahkan, lahirnya perpres 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada 6 september lalu menjadi tugas terkini PAI. Menurutnya, Islam moderat serta wawasan kebangsaan adalah karakter yang harus menjadi priositas untuk dikembangkan melalui PAI.
“Kami berharap, melalui pelatihan ICT ini, penguatan pendidikan karakter melalui PAI bisa lebih efektif. Karena PAI harus bisa lebih berperan dalam melaksanakan pendidikan karakter bangsa.”, pungkas Ishom di hadapan 50 peserta yang terdiri dari unsur guru dan pengawas PAI. (Zaki)
Rrepost dari kemenag.go.id
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Kemenag Fokus Penuhi Kebutuhan Guru Pendidikan Agama Islam
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2017/09/kemenag-fokus-penuhi-kebutuhan-guru.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)