#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Jumlah Jemaah Wafat Lampaui Tahun 2016

Kamis, 14 September 2017
Makkah (Kemenag) --- Jemaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi terus bertambah. Tercatat sampai dengan 13 September 2017, sudah 438 jemaah yang wafat. Lima jemaah wafat di Jeddah, 309 wafat di Makkah, 37 wafat di Madinah, 20 wafat di Arafah, dan 67 jemaah wafat di Mina. Sebanyak 18 orang dari jumlah yang wafat adalah jemaah haji khusus.
Kasi Penghubung Kesehatan Daker Makkah dr. Ramon Andrias mengatakan bahwa jumlah ini sudah melewati total angka kematian pada tahun 2016. “Bahkan, jumlah ini juga sudah melewati angka kematian tahun 2015, di luar korban jatuhnya crane dan musibah Mina,” terang Ramon di Makkah, Rabu (13/09).
Angka kematian pada musim penyelenggaraan haji tahun 2015 mencapai 491, namun sudah termasuk lebih dari seratus jemaah wafat korban crane dan musibah Mina. Sementara angka kematian pada tahun 2016 berjumlah 342.
Meski lebih tinggi, Ramon mengatakan bahwa kuota haji tahun ini juga jauh lebih banyak dibanding empat tahun terakhir. Sejak 2013 – 2016, kuota haji negara pengirim jemaah dipotong 20% efek renovasi Masjidil Haram.  Kuota haji Indonesia pun berkurang menjadi hanya 168.800.
“Tingginya angka kematian ini juga karena kuota haji tahun ini kembali normal. Jadi kembali ke 211ribu ditambah 10ribu, menjadi 221ribu. Jadi wajar lebih tinggi karena ristinya lebih tinggi kuotanya juga lebih tinggi,” kata Ramon.
“Sampai saat ini dari 438 kematian, 342 itu kematian di atas umur 60. Memang sudah risti dari risti umur, mungkin ditambah lagi dengan risti penyakit,” tambahnya.
Menurut Ramon, cuaca tahun ini yang lebih panas juga menjadi faktor pendukung. Sepekan ini, suhu di Makkah berkisar 43 - 46 derajat Celcius dengan riil feel bisa mencapai 50-52 derajat. Kalau di Madinah bahkan bisa lebih panas, sementara kelembaban juga rendah.
Kepada jemaah yang masih di Makkah dan Madinah, Ramon mengimbau untuk memahami kondisi fisik masing-masing dan tidak memaksakan diri. “Bila tidak perlu keluar, jangan keluar dulu. Apalagi di Madinah panasnya lebih terasa,” tuturnya.
Jemaah juga diingatkan untuk makan dan minum secara teratur. Minum air putih dengan cukup, tidak harus menunggu haus. “Sekarang sudah hajian, mungkin jemaah sudah ingin pulang. Selera makan sudah mulai berkurang. Tapi tetap harus makan dan banyak minum,” tandasnya.
Penyelenggaraan ibadah haji sudah memasuki fase pemulangan. Sampai dengan hari 12 September, total sudah ada 103 kloter yang terbang ke Tanah Air dengan 41.264 jemaah dan 515 petugas kloter. Pemulangan jemaah melalui Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah akan berlangsung hingga 20 September mendatang. 
Pergerakan jemaah haji dari Makkah ke Madinah juga sudah mulai pada 12 September 2017. Sebanyak 16 kloter telah diberangkatkan pada hari pertama. Pergeseran ini akan terus berlangsung hingga 26 September mendatang. Jemaah akan berada di Madinah selama 8 – 9 hari untuk selanjutnya diberangkatkan menuju Tanah Air melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah. Kloter terakhir jemaah haji Indonesia diperkirakan akan pulang pada 5 Oktober 2017.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Jumlah Jemaah Wafat Lampaui Tahun 2016
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2017/09/jumlah-jemaah-wafat-lampaui-tahun-2016.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)