#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Menag Minta Pejabat Lebih Dekat Dengan Bawahan

Sabtu, 13 Januari 2018
Lembang (Kemenag) --- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta semua pejabat di Kemenag memiliki kedekatan dengan bawahan di masing-masing unitnya. Kedekatan dimaksud bukan hanya secara emosional, tapi juga kedekatan personal, memiliki kesamaan rasa akan makna tugas, dan kemampuan memotivasi sampai level paling bawah.
"Pemaknaan akan tugas dan tanggung jawab di masing-masing unit perlu dimotivasikan pimpinan sampai ke level paling bawah" ungkap Menag pada Rapat Pimpinan Terbatas Kementerian Agama di Lembang, Jawa Barat (Jumat, 12/1).
Menag mendorong pimpinan Kemenag agar tidak kehilangan pemaknaan atas kehadiran diri dalam menjalankan tugas. Menurut mantan Wakil Ketua MPR ini semangat kerja bawahan akan meningkat jika ada pemaknaan yang benar akan kerja. Dalam konteks Kemenag, ada kata ikhlas yang kontekstual.
"Bagi pimpinan, kerja bukan lagi soal materi, tapi pada niat dan kepuasan akan hasil kerja. Jadi lebih substantif. Di situlah pentingnya soal kemampuan untuk terus belajar dan memahami bidang kerja masing-masing," tegasnya di hadapan pejabat Eselon I dan II Kemenag.
Dalam kesempatan yang sama, putra Kiai Saifuddin Zuhri ini menyinggung model kepemimpinan (leadership) di birokrasi yang sering dimaknai hanya kepada bawahan. Padahal, katanya lebih lanjut, memimpin harusnya juga bisa mempengaruhi ke samping (kolega dan antar unit) dan ke atasan.
"Memimpin itu kemampuan memengaruhi agar sesuai dengan aturan yang disepakati. Atasan juga perlu dipimpin.  Pejabat jangan hanya minta arahan atau petunjuk kepada atasan. Tapi juga memimpin atasan dalam bentuk memberi masukan, pendapat, input, memberi solusi, menyampaikan risiko yang mungkin timbul, dan sebagainya. Itu namanya kepemimpinan situasional", terangnya.
Rapat Pimpinan Terbatas berlangsung 12-13 Januari 2018 dihadiri oleh seluruh pejabat Eselon I Kemenag, staf khusus dan staf ahli, serta beberapa pejabat Eselon II terkait. Selain membahas evaluasi program 2017, Rapim juga mendiskusikan program prioritas dan unggulan 2018, serta penyiapan bahan Rakernas Kemenag. (dimas)
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Menag Minta Pejabat Lebih Dekat Dengan Bawahan
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2018/01/menag-minta-pejabat-lebih-dekat-dengan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)