#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Kebijakan Baru Konsumsi Jemaah Haji 2016

Minggu, 07 Agustus 2016
Jeddah (Pinmas) --- Kementerian Agama terus berupaya meningkatkan layanan kepada jemaah haji Indonesia. Sejumlah kebijakan baru telah ditetapkan dalam penyelenggaraan haji tahun ini, salah satunya terkait dengan penyediaan konsumsi jemaah haji.
Pesan ini disampaikan Kepala Bidang Katering Haji Elmiyati saat memberikan materi pada peserta Orientasi Tenaga Musiman Haji yang digelar KJRI di Jeddah, Kamis (04/08). Kepada ratusan peserta orientasi, Elmiyati menjelaskan bahwa pelayanan konsumsi kepada jemaah haji Indonesia meliputi pelayanan konsumsi Jeddah, Madinah, Makkah, dan Armina. Menurutnya, kebijakan baru layanan konsumsi tahun ini antara lain: pemberian air minum selamat datang di Madinah pada saat jemaah tiba di hotel.
Selain itu, Kementerian Agama juga menambah pemberian makan di Makkah, dari yang awalnya 15 kali pada tahun lalu menjadi 24 kali (makan siang dan malam). Tambahan layanan juga diberlakukan di Armina, berupa penggunaan karpet dan Es batu di masing-masing tenda dan melakukan repeat order (kontrak ulang) kepada perusahaan yang mempunyai kinerja baik tahun lalu.
Selain kebijakan baru, Elmiyati juga memaparkan tentang tantangan yang harus dipahami di lapangan terkait konsumsi jemaah haji Indonesia agar bisa diantisipasi dan dicegah sedini mungkin. Menurutnya, ada sejumlah tantangan, baik layanan konsumsi di Madinah dan Makkah.
Belajar dari tahun sebelumnya, pada awal pelayanan, Elmiyati meminta petugas bisa mewaspadai dan mengantisipasi tantangan keterbatasan stockbahan baku dan tenaga kerja perusahaan katering. Petugas harus dapat memastikan seluruh perusahaan menyediakan konsumsi sesuai dengan yang telah ditetapkan.
Tantangan lainnya, pada proses distribusi jemaah satu kloter yang menempati lebih dari satu hotel. Petugas haji harus juga dapat mengantisipasi jika ada petugas distribusi perusahaan katering yang belum memahami lokasi hotel tempat tinggal jemaah haji Indonesia.
Hal lainnya yang harus diperhatikan adalah jika pihak perusahaan secara sepihak mengganti menu tanpa memberikan informasi terlebih dahulu kepada pengawas katering dan adanya keterlambatan mendistribusikan kelengkapan konsumsi. Elmiyati berharap semua tantangan ini bisa diantisipasi dini sehingga layanan katering bisa berjalan optimal.
Khusus untuk konsumsi di Makkah, Elmiyati menggarisbawahi pentingnya peran petugas untuk memastikan setiap perusahaan katering mendistribusikan makan dengan menggunakan heater atau foodwarmer. Tantangan lainnya, pemilik hotel tidak menyiapkan ruang distribusi makan dan penyimpanan buah dan air minum serta daya listriknya. Untuk itu, ketersediaan layanan fasilitas di hotel itu harus dicek sejak awal.
Elmiyati juga meminta para petugas untuk mengawal cita rasa masakan Indonesia. (akn/mkd/mkd)
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Kebijakan Baru Konsumsi Jemaah Haji 2016
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/08/kebijakan-baru-konsumsi-jemaah-haji-2016.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)