#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Menag: MTQ Telah Kembali ke Khittahnya Sebagai Milik Umat

Minggu, 07 Agustus 2016
Mataram (Pinmas) --Perhelatan akbar Musabaqah Tilawatil Quran ke XXVI di Mataram Nusa Tenggara Barat resmi ditutup Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Dalam sambutannya, Menag mengapresiasi suksesnya gelaran dua tahunan ini, tidak hanya karena berjalan sesuai rencana tapi juga berhasil mengembalikan MTQ kepada khittahnya.
Penyelenggaraan kali ini, MTQ terasa betul telah kembali ke khittah. Khittah MTQ adalah milik masyarakat. Saya patut mengapresiasi seluruh masyarakat Lombok tidak terkecuali dari non muslim yang bahu membahu mengembalikan MTQ ke maqam-nya, demikian penegasan Menag Lukman, Sabtu (06/08) malam.
Menag mengaku menyaksikan sendiri antusiasme masyarakat dalam berpartisipasi meramaikan acara sehingga sangat terasa bahwa MTQ lahir dari masyarakat dan untuk masyarakat. Partisipasi itu semakin nampak ketika masyarakat juga aktif memantau, mengawasi dan mengawal MTQ berjalan secara jujur, adil, transparan, dan berkualitas, tegasnya disambut tepuk tangan ribuan masyarakat yang memadati Astaka Islamic Center NTB.
Untuk memudahkan akses masyarakat terhadap informasi penyelenggaraan MTQN XXVI, lanjut Menag, Pemerintah telah menyediakan sistem yang mendukung partisipasi aktif publik melalui optimalisasi teknologi informasi dan media. Untuk pertama kalinya sekaligus sebagai pembeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, MTQ sekarang menerapkan e-MTQ dan memiliki Media Center.
Saat ini aplikasi online e-MTQ memang masih sederhana, sebatas pendaftaran dan kroscek dokumen. Tapi nyatanya itu pun sudah signifikan mengurangi praktik-praktik negatif yang mencederai kesucian kompetisi di bidang Al Quran, pekik Menag.
Aplikasi ini ke depan harus terus disempurnakan sehingga memiliki alur dari hulu ke hilir sebagai sistem yang lengkap. Yakni sistem online yang berjalan secara ringkas tapi akuntabel mulai dari pendaftaran, penilaian, hingga penentuan juara, tambahnya.
Menag yakin bahwa kehadiran aplikasi ini akan lebih menjamin hadirnya juara sejati melalui MTQ yang berintegritas tinggi. Menag berharap ke depan tidak ada lagi praktik transfer qari dari daerah lain hanya demi meraih predikat juara, termasuk juga tidak ada kecurangan oleh siapa pun dan dalam bentuk apa pun.
Seiring transparansi melalui teknologi, marilah kita tumbuhkan semangat baru untuk melakukan pembinaan potensi putra-putri daerah sendiri. Prestasi akan datang secara membanggakan jika datang dari pembinaan yang berjenjang, ajaknya.
Menag berharap kembalinya MTQ ke khittahnya ditindaklanjuti dengan program-program strategis yang berkelanjutan (sustainability). MTQ harus dapat menjadi sarana regenerasi untuk menjaga agar ketersediaan referensi selalu terjamin.
Dari MTQ, lanjut Menag, Indonesia dapat mewarisi keindahan tilawah anak bangsa seperti Pak Yusnar Yusuf atau Pak Said Agil Al Munawar, Muammar ZA pada 1980-1990-an, keahlian qiraah KH Basori Alwi pada 1950-1970, hingga kepiawaian lagu KH Abdul Karim pada 1930-1950. Jika dirunut ke belakang, mereka mewarisi ilmu naghamatil Quran ala Syeikh Mustafa Ismail pada awal 1900-an yang merupakan regenerasi dari masa pengembangan seni Islam di zaman Abbasiyah, yang bersumber dari cara baca Quran semerdu Ubay bin Kaab di masa Rasulullah SAW.
Ke depan, Menag juga mengusulkan agar MTQ digabungkan dengan penyelenggaraan Festival Islami yang menampilkan pameran seni Islami, fashion show, bazar kuliner muslim, atau promosi wisata halal. Dengan demikian, semakin banyak pihak yang dapat berpartisipasi dan pada akhirnya memberi dampak baik yang lebih signifikan.
Saya harap MTQ tidak hanya gebyarnya yang akbar tapi juga berkontribusi meningkatkan perekonomian dalam skala yang mampu menyejahterakan masyarakat, ujarnya.
MTQN XXVI di Mataram ini dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo pada Sabtu (30/07) lalu. Tampil sebagai juara umum adalah Provinsi Banten. Adapun tuan tumah MTQN XXVII yang akan diselenggarakan pada tahun 2018 adalah provinsi Sumatera Utara. (humas/dm).
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Menag: MTQ Telah Kembali ke Khittahnya Sebagai Milik Umat
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/08/menag-mtq-telah-kembali-ke-khittahnya.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)