#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

PEMICU SEMANGAT : Siswa MIN 9 Petukangan Raih Medali Emas Matematika Internasional

Rabu, 03 Agustus 2016
Jakarta (Pinmas) ---Siswa Kelas VI Madrasah Ibtaiyah Negeri (MIN) 9 Petukangan Jakarta Barat, Lutfi Bima Putra berhasil meraih medali Emas pada Lomba International Mathematics Competition (IMC) di Singapura yang diselenggarakan pada tanggal 30 Juli 2016.
Informasi ini disampaikan oleh Kepala MIN 9 Petukangan Asyim. Menurutnya, IMC merupakan kontes matematika tahunan yang diselenggarakan oleh IMC Union. Tujuan kompetisi ini untuk mempopulerkan pendidikan matematika. Selain itu, kompetisi ini bertujuan mengubah pandangan generasi muda tentang pelajaran matematika yang selama ini dianggap sukar menjadi ilmu yang menarik dan mengasyikkan.
"Perlombaan ini diikuti oleh negara Singapura, Filipina, China, Malaysia, Vietnam, Iran, Korea Selatan, Hongkong dan Myanmar," tutur Asyim, Selasa (02/08).
Disinggung soal persiapan, Asyim mengaku menjelaskan bahwa sebelum mengikuti kompetisi, putra dari Bapak Billy Zusmaily dan Ibu Marini Rasyidin ini secara intensif mempelajari soal-soal matematika yang tarafnya nasional maupun internasional.
"Saya pribadi berharap, siswa-siswi madrasah akan lebih banyak lagi terlibat pada event-event seperti ini. Sebab saya yakin, siswa-siswi madrasah juga memiliki kemampuan yang sama dengan siswa-siswi di luar negeri. Buktinya adalah Lutfi Bima Putra," pungkas Asyim saat ditemui di MIN 8 Petukangan. (hamam/mkd/mkd)
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: PEMICU SEMANGAT : Siswa MIN 9 Petukangan Raih Medali Emas Matematika Internasional
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/08/pemicu-semangat-siswa-min-9-petukangan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)