#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Menjadi Tuan Rumah MTQN, Mataram Mendadak Berpeci

Senin, 01 Agustus 2016
Mataram (Pinmas) -Ada pemandangan unik di Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan sekitarnya. Sejak digelar Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional (MTQN) ke-26 yang berlansung sejak dari 27 Juli - 07 Agustus 2016, sopir taksi, satpam, penjaga toko, resepsionis hotel hingga tukang parkir, memakai peci bagi laki-laki dan kerudung (jilbab) bagi perempuan.
Ismail misalnya, sopir Taksi ini, saat ditanya mengatakan, bahwa Walikota Mataram Ahyar Abduh, menyarankan untuk menghargai MTQN, Maka warga Mataram yang beragama Islam, dianjurkan untuk memakai peci dan jilbab.
"Bahkan lagu mars MTQ dinyanyikan di sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah sejak tanggal 01 (Juli) kemarin mas," terang lelaki yang telah 9 tahun menjadi sopir taksi tersebut.
Zainuddin, salah satu satpam di Mall Kota Mataram juga mengatakan hal yang sama.
"Walikota sini kan Tuan Guru (kiai), gubernur juga Tuan Guru, jadi kami dianjurkan untuk memakai peci dan jilbab," terang laki-laki asal Mataram berusia 23 tahun tersebut.
Ditanya apakah anjuran itu dilakukan dengan sukarela, Maghrip, pegawai salah satu restoran mengatakan, semua telah dikoordinasikan dengan baik dengan manajemen dan dilakukan secara suka rela.
"Ini hanya anjuran untuk menghormati tamu yang sedang mengikuti MTQN. Untuk yang non muslim, tidak dianjurkan," hanya yang muslim saja" terang laki-laki asal Lombok Tengah berusia 24 tahun ini, dengan logat khas Mataram.
Saat memasuki mall, hotel dan bahkan taksi, Pinmas menyaksikan, masyarakat Mataram dan NTB menyambut pelaksanaan MTQN ini dengan baik. Bahkan ada yang rela membeli peci hingga Tiga.
Sebelumnya, pada pembukaan MTQN ke-26 di Islamic Center, Sabtu (30/07) malam lalu, Gubernur NTB, TGH Muhammad Zainul Majdi, dalam sambutannya menyampaikan, MTQN ini disambut oleh seluruh masyarakat NTB dengan suka cita, tidak hanya Umat Islam, namun seluruh masyarakat.
"Seluruh kelompok masyarakat NTB menyambut MTQN ini dengan suka cita. Para saudara kita dari Tionghoa, memasang lampion-lampion di jalan, untuk menghormati perlombaan ini. Bahkan saudara kita dari Nasrani memberi surat kepada saya, menyatakan mendukung penuh MTQN. Seraya bertanya, apa yang bisa kami bantu dan harus koordinasi dengan siapa..? Semua pihak mendukung dan siap mengamankan MTQN ini," terang Gubernur.
Gubernur berharap, para tamu yang berkunjung ke NTB, bisa tersenyum saat kembali pulang.
"Kami berusaha memberikan pelayanan terbaik. Ini motivasi kami untuk bekerja lebih keras sebagai bentuk kontribusi nyata kami bagi Indonesia tercinta ini," imbuh Gubernur. (G-penk/dm/dm).
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Menjadi Tuan Rumah MTQN, Mataram Mendadak Berpeci
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/08/menjadi-tuan-rumah-mtqn-mataram.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)