#SelamatHAB72

#SelamatHAB72

Peletakan Batu Pertama Pembangunan Masjid Ponpes Al Anshar Bula Oleh Kepala KanKemenag SBT

Kamis, 18 Agustus 2016
Bula,- Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Drs. H. Ismail Rumfot didaulat untuk meletakkan batu pertama  pembangunan masjid Pondok Pesantren Al Anshar Namatimur Bula pada hari ini, Kamis (18/8). Kegiatan di kompleks pesantren kebanggaan masyarakat SBT ini  dihadiri juga Asisten I Moksen Ohorella MM, Ketua MUI Kabupaten SBT Malik Keliwou SH. ,Ir. Bunyamin Chiu Anggota DPRD SBT , perwakilan dari dua perusahaan minyak yang beroperasi di Bula yakni Citic Seram Energy Limited dan Kalrez Petroleum Limited serta para tokoh agama dan masyarakat yang ada di Bula. Awalnya peletakan batu pertama ini diagendakan dilakukan langsung oleh Bupati SBT Abdul Mukti Keliobas, namun karena kegiatan dinas luar kehadiran Bupati SBT diwakili oleh Asisten I Moksen Ohorella MM.

Sesaat sebelum peletakan batu pertama pembangunan masjid , Kepala Kemenag SBT Drs. H. ismail Rumfot dalam sambutannya menyatakan bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islami yang muncul dan lahir dari masyarakat dan kembalinya juga (alumninya) ke tengah masyarakat. “Maka setiap aktivitas didalamnya termasuk pembangunan masjid ini menjadi tanggung jawab kita semua. Untuk itu kita harus berpartisipasi aktif dalam membantu penyelesaian masjid ini dengan harta kita baik secara pribadi maupun atas nama instansi” himbaunya di hadapan para undangan yang hadir.
Senada dengan apa yang disampaikan oleh Ismail Rumfot, Ustad Ibrahim Rumbara (yang biasa disapa Ustad Abu Imam) dalam sambutannya sebagai pendiri dan Pembina Pondok Pesantren Al Anshar baik yang berlokasi di Ambon , Liang dan Bula menyatakan bahwa kehadiran Al Anshor di Maluku tiada lain sebagai bentuk kontribusi dirinya dan para asatidz untuk memajukan pendidikan di Maluku. “Alhamdulillah dari ponpes Al Anshor baik yang di Ambon atau di Bula telah melahirkan alumni berprestasi yang saat ini tersebar di berbagai perguruan tinggi Islam di tanah air. Diantara ada yang hafidz 30 juz, ada yang akan segera menyelesaikan studinya di kedokteran. Yang harus menjadi catatan bagi kita bahwa mereka semua adalah para anak-anak muallaf yang ada di Desa Salas, Dawang, Solang dan Bonfia Gunung. Ini merupakan kebanggaan serta pemicu bagi anak anak Islam lainnya” tuturnya.
Pada akhir acara, para undangan disuguhi alunan nasyid anak anak santri ponpes Al Anshar. Nasyid yang bertemakan tentang curahan hati seorang santri kepada orang tuanya ini mampu membuat suasana menjadi haru. Tak sedikit dari para undangan yang meneteskan airmata menghayati lirik nasyid yang diselingi puisi tersebut. “Sungguh tak terasa saya larut dalam keharuan mendengar nasyid dari anak-anak yatim dan muallaf tadi “ ungkap Drs. H. Ismail Rumfot  dalam perjalanan kembali ke kantor. (mukmin)
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Peletakan Batu Pertama Pembangunan Masjid Ponpes Al Anshar Bula Oleh Kepala KanKemenag SBT
Ditulis oleh kemenagsbt
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kemenagserambagiantimur.blogspot.com/2016/08/peletakan-batu-pertama-pembangunan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Renungan


author-pic YUK JADI ASN CERDAS

Dikutip oleh Pak Min
KETIKA manusia masih hidup nomaden, yang bisa berburu dan membuat api sudah menjadi orang yang cerdas pada zamannya. Ketika peradaban pertama muncul, manusia mulai menetap dan menanam bahan makanannya sendiri – dibutuhkan kecerdasan baru, yaitu kemampuan untuk memahami tanah dan mengenal biji-bijian. Zaman terus berubah dan manusia dituntut untuk terus mengasah kecerdasannya – agar dia bisa tetap lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupannya. Dari mana dia bisa terus belajar agar tidak tersesat di zamannya? Itulah gunanya petunjuk! Bukan hanya makhluk cerdas seperti manusia, seluruh ciptaanNya yang lain juga diberi petunjuk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Tanaman diberi petunjuk hara apa yang dia perlu hisap dari tanah, lebah diberi petunjuk bunga-bunga apa yang nectarnya bisa menjadi obat, domba di padang gembalaan diberi petunjuk untuk tahu bila ada tanaman yang beracun dst. Paket mulai dari penciptaan, penyempurnaan, penentuan kadar dan pemberian petunjuk inilah yang dijanjikan oleh Allah melalui rangkaian ayat-ayat pendek berikut : “Sucikan nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi, Dia Yang Menciptakan lalu menyempurnakannya, Dia Yang menentukan ukuran-nya masing-masing dan memberinya petunjuk.” (QS; Al Ala [87]: 1-3) Petunjuk yang inherent – melekat pada diri kita itulah yang menjadi instrument penjaminan agar kita tidak tersesat. Jangankan kita, lebah yang amat kecil-pun mampu terbang sangat jauh dan balik kerumahnya tanpa harus tersesat – karena dia diberi petunjuk (QS 16 :68-69), apalagi manusia. Kunci-kunci pembuka segala problem kehidupannya ya ada di petunjuk tersebut. Lantas mengapa begitu banyak urusan kehidupan kita seolah tidak atau belum terselesaikan dengan baik? Urusan ekonomi, politik, keamanan, pangan, kesehatan dlsb? Ya karena kebanyakan manusia di zaman ini mengabaikan petunjuk tersebut. Lebah mampu mencari bunga-bunga di hutan dan mengambil obat untuk manusia – karena dia mengikuti petunjukNya. Sebaliknya manusia yang mengeksplorasi hutan yang sama, bukannya mendapatkan obat tetapi menimbulkan penyakit bagi sesamanya – dengan membakar hutan dan menebarkan asap – karena dia mengabaikan petunjukNya. Petunjuk itu ada di rumah-rumah kita, bahkan ada Apps di hp-kita dan kita bawa kemanapun kita pergi, sebagian kita bahkan bisa menghafal seluruh petunjuk yang ada – mengapa kita tidak kunjung juga menjadi umat yang cerdas, yang diunggulkan oleh Allah dari umat yang lain (QS 3 :139)? Barangkali penyebabnya adalah karena kita belum berhasil memahami petunjuk itu untuk kita yang hidup di zaman ultra informasi ini. Maka kami berusaha memahami petunjuk itu dengan meng-ekstrak informasi menggunakan teknologi yang ada di jaman ini, Anda juga bisa melakukannya menggunakan apa yang kami kembangkan di Huda.id – hanya saja dia masih jauh dari sempurna, sehingga hasilnya perlu diolah lagi. Bagaimana kita bisa lebih cerdas dari kompleksitas permasalahan kehidupan di zaman ini? Kuncinya adalah bagaimana kita menguasai inti dari setiap persoalan yang kita hadapi. sumber : hidayatullah(Mn)